Dapat broadcast tulisan ini dr Whatsapp, sepertinya layak untuk disebarkan. Selamat membaca :))

Seorang teman kuliah (perempuan) pernah berkata kepada saya, “Menjadi kalian (lelaki berpendidikan tinggi) itu sebetulnya sangat mudah. Istri kalian bisa mencari uang sendiri, yang mereka butuhkan hanyalah kasih sayang”.

Mendengar ucapannya saya terdiam. Apa yang ia ucapkan memang betul. Sebagai para lelaki yang mengenyam pendidikan tinggi, maka biasanya para perempuan yang berhasil kami persunting sebagai istri adalah mereka yang berpendidikan tinggi juga. Dalam kasus saya dan teman-teman di ITB, istri-istri kami tidak jauh dari alumni ITB juga, dokter Unpad, atau para perempuan yang mengenyam pendidikan di unversitas-universitas yang bagus.

Melihat latar belakang pendidikannya, wajar jika kemudian mereka mendapatkan kesempatan untuk memperoleh karir yang bagus. Dalam hal karir, para perempuan itu tidak perlu merasa kalah dari para lelaki. Asalkan memiliki kinerja bagus, posisi setinggi apapun di tempat kerjanya sangat mungkin diperoleh.

Namun, ada satu hal yang terkadang bisa “menghambat” karir istri, yaitu pernikahan. Sebagai orang timur, sebagian besar dari kita menganut paham bahwa, “langkah perempuan itu tidak panjang”. Artinya, pada umumnya istri akan mengikuti suami. Misalnya ternyata suami harus pindah pekerjaan ke luar daerah, maka biasanya istri akan “mengalah” dan mengikuti suami. Dalam hal ini tentu istri berkorban sangat besar karena bisa jadi dengan kepindahan itu dia harus meninggalkan pekerjaannya. Kalaupun bisa mendapatkan pekerjaan baru, tidak ada jaminan bahwa di tempat barunya itu dia bisa mendapatkan karir yang sama bagusnya dengan karir di tempat asalnya.

Saya sendiri paham betul dengan hal ini. Ketika menikah di tahun 2012, saya yang masih baru memulai karir sebagai dosen di ITB harus berangkat ke Belanda untuk menempuh pendidikan doktor. Saya dan istri ingin agar kami tidak berpisah terlalu lama. Terdengar mudah bukan? Istri saya tinggal menyusul ke Belanda maka kami pun akan dapat berkumpul kembali. Permasalahan selesai.

Sayangnya kenyataan tidak semudah itu. Waktu itu istri saya masih terikat kontrak di tempat kerjanya sehingga dia baru bisa menyusul hampir setahun kemudian. Tetapi bukan cuma itu permasalahannya. Istri saya sering berpikir. Nanti kalau di Belanda apa yang akan ia kerjakan? Apa aktivitas yang bisa dia punya? Bagaimana jika tidak bisa bertemu teman-teman dan keluarganya dalam jangka waktu lama?

Apakah salah jika seorang istri mempunyai pikiran sedemikian rupa? Tentu tidak. Saya pun sering punya pikiran yang sama. Lelaki akan menjadi makhluk yang sangat egois jika ia berpikir bahwa istrinya harus menurut sepenuhnya mengikuti dirinya kemanapun karir membawanya. Istri saya waktu itu masih baru beranjak 23 tahun. Ia lulus cum laude dari Teknik Industri ITB dengan persentil 94 di angkatannya. Sebuah prestasi yang tidak semua orang bisa dapatkan. Waktu itu dia sedang bekerja di salah satu BUMN terbesar di Indonesia dan hampir selalu unggul dari sisi penilaian kinerja.

Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, dalam beberapa tahun mungkin dia akan bisa mendapatkan posisi yang sangat bagus di tempat kerjanya. Kalau saja istri saya tidak perlu ikut ke Belanda, dia bisa dengan mudah membeli beberapa barang yang teman-temannya bisa beli. Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, secara materi mungkin kami akan lebih baik dan kami tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana nanti mencicil rumah, mobil, pendidikan anak, dsb.

Dan atas segala kesempatan bagus yang istri saya lewatkan untuk dengan ikhlas mengikuti suaminya, apakah saya harus jengkel kalau ia mempunyai sebersit rasa khawatir tentang masa depannya di Belanda? Tentu tidak. Istri saya punya rasa khawatir karena dia berpendidikan tinggi, karena dia pintar. Dengan itu dia sebetulnya punya kesempatan yang besar untuk bisa sukses. Tetapi dia dengan rela meninggalkan itu demi suaminya. Apakah ini bukan wujud cinta yang tulus dari seorang istri ke suaminya? Lagipula kalau dipikir, memang kriteria pendidikan tinggi dan pintar adalah kriteria yang saya tentukan dengan sadar ketika hendak memilih istri. Maka rasa khawatir itu adalah konsekuensi yang harus siap saya terima.

Wahai para suami. Istri-istrimu yang berpendidikan tinggi memiliki rasa khawatir kalau harus meninggalkan karirnya bukan karena ia takut kehilangan uang banyak, bukan juga karena takut kehilangan status sosial. Penyebabnya adalah ia tidak terbiasa harus diam di rumah pada saat sebelumnya disibukkan dengan berbagai kegiatan pada saat kuliah. Inilah yang menjadi tanggung jawab kita untuk ikut memikirkan solusinya.

Saya sering merasa berdosa kalau saya harus “merampas” masa muda dan kesempatan istri saya hanya karena ia harus mengikuti saya. Saya selalu berusaha memberikan pengertian bahwa yang penting dapat berkumpul bersama dulu. Yang penting bahwa istri itu harus pintar dan berpendidikan tinggi supaya anak-anak kami mendapatkan pendidikan dasar yang bagus. Maka saya sangat bersyukur ketika istri berhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan magister di Rijksuniversiteit Groningen mulai bulan September 2014. Paling tidak dia juga mendapatkan nilai tambah dengan ikut saya ke Belanda.

Pada akhirnya, memang fitrah seorang istri untuk selalu mengikuti suami. Tetapi posisi sebagai pemimpin keluarga tidak lantas membuat kita egois dan tidak ber-empati kepada istri. Maka para suami,

Jangan hanya memikirkan karirmu. Istrimu mungkin meninggalkan karirnya demi majunya karirmu

Jangan tersinggung kalau didebat istrimu. Itu tanda kalau ia pintar, dan ia mendapatkan kepintaran itu dari pendidikan yang kalian para suami tidak mengeluarkan uang sepeserpun

Jangan pelit kepada istrimu. Dia rela mengorbakan kesempatannya untuk mengikuti dirimu. Padahal tidak ada jaminan bahwa dirimu akan lebih sukses darinya

Jangan pelit untuk mendoakan istrimu. Setiap sehabis sholat istrimu selalu mendoakan dirimu

Jangan bersikap kasar kepada istrimu. Suatu saat kamu akan ingat, bahwa selain ibumu, dia lah orang yang paling lembut sikapnya terhadapmu

Jangan tinggalkan istrimu karena suatu saat kamu sukses. Pada saat sekarang kamu belum sukses, hanya istrimu lah yang tulus mencintaimu

Berterima kasihlah kepada istrimu. Ia sudah cukup banyak berkorban untukmu dan tidak pernah meminta ucapan terima kasih

Groningen, 21 Juni 2014 jam 21:01 CEST

untuk Istriku tercinta

If I have to die a thousand times, I will always choose you on every re-birth

Alhamdulillah… ^^

"

Jika sendiri jangan merasa sepi,ada Allah yg menemani

Jika sedih jangan di pendam dalam hati,ada Allah tempat berbagi

Jika marah jaga fikiran & hati,ada Allah tempat menenangkan diri

Jika susah jangan merasa pilu,ada Allah tempat mengadu

Jika gagal jangan berputus asa,ada Allah tempat meminta

Jika bahagia janganlah lupa,ada Allah tempat bersyukur

"

Sebenernya dr mulai seminggu yg lalu dokter sudah bilang kalau calon mujahid/mujahidahku sudah tidak bersamaku. Kabar baru kusampaikan kpd beberapa teman di kampus saja. Satu pesan yg paling panjang, datang dr Vanny…

"Yg utama, ncim dan bang ali hrs terima, si dedek msh betah sm Alloh. Nangis2nya akn hilang kl ncim udh benar2 terima. Selanjutnya tinggal kita keep sabar dan istiqomah, sambil siapin diri dan kesehatan pas dikuret.
Masih terbentang jalan utk ngejemput si dedek. sembap bisa diilangin dikit pake kompres anget bsk pagi. Sebelum tidur cuci muka/wudhu biar ngga terlalu sembap paginya.
Ncim dan bang ali calon ortu hebat :)”

Pas banget ini sehari sebelum ujian praktikum, bukannya belajar malah nangis semalem suntuk. Besok paginya nutupin bengkaknya pake celak yg super tebel. Dan masih sempet belajar pagi2 sambil sarapan dan di kampus bareng yg lain sebelum masuk ruang ujian..

Setelah itu masih banyak berdoa berharap kalau calon mujahid/mujahidah ku masih ada harapan. Terus ngajak omong dedeknya… dibangunin siapa tau ada keajaiban. Ternyata rencana Allah tak begitu, 5 hari setelahnya flek mulai keluar. Nangis sedih lagi di kamar mandi… mau ke dokter pun gak rela karena masih dalam berduka fase denial. Akhirnya baru 3 hari setelahnya memberanikan diri. Harus dikuret katanya…

Sengaja gak nyebar kesana sini, tapi kabar angin sampai juga ke semua orang. Ucapan keprihatinan dan kata2 penyemangat banyak terucap untukku kemarin. Satu yg paling menyentuh hati, datang dr teman SMP ku. Banan namanya…

"untuk calon umi luar biasa..
Syifa wanita yg kuat. ga semua org dikasih ujian yg sama besarnya kyk syifa krn ga semua org kuat kayak syifa. Semoga dgn ujian ini Allah mengampuni semua dosa2 syifa dan suami. Dan semoga segera diamanahkan kembali buah hati yg dinanti2. Sehat2 ya syifa”

Hanya bisa terharu, berkaca-kaca, dan mengaminkan. Semua ada hikmahnya. Syifa kuat kok… apalagi syifa punya umi bapak, adik2, teman2, yg selalu optimis dan terus mendukung. Suami juga optimis banget, kuat banget hampir tak diperlihatkan kesedihannya, karena sudah tugasnya terlihat kuat di depanku. Menyelipkan becanda-becandaan agar aku tetap tersenyum. Apa aku pantas berharap lebih? Semua sudah rencana-Nya… insyaAllah ini yg terbaik. InsyaAllah akan segera diberi ganti olehNya yg lebih baik. Aamiin…

This week, my baby’s heart is forming and, by the end of this week, begins to beat at a steady rhythm. Its skeleton begins to form, as do the structures that will become its eyes and ears.

Also during this week, the placenta forms. The placenta is responsible for the transfer of nutrients and oxygen from the your bloodstream to the fetus. It also allows the fetus to get rid of its own waste by transferring it back to my circulation. It also continues to secrete the hormones progesterone and estrogen, which help keep my pregnancy steady.

Check this out!

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan…

5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai,maka kamu akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah,. bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah,maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

" Apa yang kamu tanam itulah yg akan kamu tuai "

Dan…Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan hal ini kepada semua orang yang anda kenal..