Sebenernya dr mulai seminggu yg lalu dokter sudah bilang kalau calon mujahid/mujahidahku sudah tidak bersamaku. Kabar baru kusampaikan kpd beberapa teman di kampus saja. Satu pesan yg paling panjang, datang dr Vanny…

"Yg utama, ncim dan bang ali hrs terima, si dedek msh betah sm Alloh. Nangis2nya akn hilang kl ncim udh benar2 terima. Selanjutnya tinggal kita keep sabar dan istiqomah, sambil siapin diri dan kesehatan pas dikuret.
Masih terbentang jalan utk ngejemput si dedek. sembap bisa diilangin dikit pake kompres anget bsk pagi. Sebelum tidur cuci muka/wudhu biar ngga terlalu sembap paginya.
Ncim dan bang ali calon ortu hebat :)”

Pas banget ini sehari sebelum ujian praktikum, bukannya belajar malah nangis semalem suntuk. Besok paginya nutupin bengkaknya pake celak yg super tebel. Dan masih sempet belajar pagi2 sambil sarapan dan di kampus bareng yg lain sebelum masuk ruang ujian..

Setelah itu masih banyak berdoa berharap kalau calon mujahid/mujahidah ku masih ada harapan. Terus ngajak omong dedeknya… dibangunin siapa tau ada keajaiban. Ternyata rencana Allah tak begitu, 5 hari setelahnya flek mulai keluar. Nangis sedih lagi di kamar mandi… mau ke dokter pun gak rela karena masih dalam berduka fase denial. Akhirnya baru 3 hari setelahnya memberanikan diri. Harus dikuret katanya…

Sengaja gak nyebar kesana sini, tapi kabar angin sampai juga ke semua orang. Ucapan keprihatinan dan kata2 penyemangat banyak terucap untukku kemarin. Satu yg paling menyentuh hati, datang dr teman SMP ku. Banan namanya…

"untuk calon umi luar biasa..
Syifa wanita yg kuat. ga semua org dikasih ujian yg sama besarnya kyk syifa krn ga semua org kuat kayak syifa. Semoga dgn ujian ini Allah mengampuni semua dosa2 syifa dan suami. Dan semoga segera diamanahkan kembali buah hati yg dinanti2. Sehat2 ya syifa”

Hanya bisa terharu, berkaca-kaca, dan mengaminkan. Semua ada hikmahnya. Syifa kuat kok… apalagi syifa punya umi bapak, adik2, teman2, yg selalu optimis dan terus mendukung. Suami juga optimis banget, kuat banget hampir tak diperlihatkan kesedihannya, karena sudah tugasnya terlihat kuat di depanku. Menyelipkan becanda-becandaan agar aku tetap tersenyum. Apa aku pantas berharap lebih? Semua sudah rencana-Nya… insyaAllah ini yg terbaik. InsyaAllah akan segera diberi ganti olehNya yg lebih baik. Aamiin…

This week, my baby’s heart is forming and, by the end of this week, begins to beat at a steady rhythm. Its skeleton begins to form, as do the structures that will become its eyes and ears.

Also during this week, the placenta forms. The placenta is responsible for the transfer of nutrients and oxygen from the your bloodstream to the fetus. It also allows the fetus to get rid of its own waste by transferring it back to my circulation. It also continues to secrete the hormones progesterone and estrogen, which help keep my pregnancy steady.

Check this out!

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan…

5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai,maka kamu akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah,. bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah,maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

" Apa yang kamu tanam itulah yg akan kamu tuai "

Dan…Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan hal ini kepada semua orang yang anda kenal..

Adakah istri yang tidak cerewet?? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet. Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun? Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka.
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan.
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ? Akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi, dan lalapan. Tak terpikir  harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyiapkan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya…

Akankah syifa bisa menjadi istri seperti di atas, BP4? Bismillah…

:: Wallahu’alam bisshawab ::..

"

A bird sitting on a tree is not afraid of the branch breaking because its trust is not on the branch, but on its wings

"

Jadi intinya, jangan bergantung pada orang lain, tpi perrcaya sama kmampuan diri sndiri

fayass:

Cinta pertama (eeaaaaa, uhuyyyy!!!)

Mungkin terlalu seru untuk dideskripsikan. Bisa dibilang terlalu simpel, dan juga terlalu rumit. Mempunyai persenan sangat besar akan ketidakberhasilan. Pada masa itu mungkin kita memang belum mengerti arti cinta yang hakiki, hanya bisa mendeskripsikan kalau…

Indeed!!