Apa sih ciri-ciri keluarga ideal?

Terbangunnya kehidupan seimbang dan tenteram. Bapak berperan sebagai pencari nafkah. Ibu berperan sebagai pembimbing anak-anak.
Struktur keluarga kokoh. Memiliki filosofi dan cita-cita yang sama. Masing-masing punya keinginan untuk meningkatkan kapasitasnya.
Produktivitas seperti pohon yang bermanfaat bagi sekitarnya. Janganlah menjadi keluarga yang parasit, merugikan sekitarnya.
Kesabaran masing-masing individu di dalamnya dalam menghadapai ujian apapun.

ANCAMAN DISINTEGRASI
Disintegrasi dapat timbul dari bahtera yang rusak (faktor internal) dan juga dari gelombang yang terus menerjang (eksternal). Namun kita harus dapat HIDUP BERSAMA GELOMBANG. Bahtera harus terus melaju menuju pantai harapan. Apakah pantai harapan itu? SurgaNya.

Apa saja ancaman itu?
** Faktor internal

Keluarga broken home dan mengalamai degradasi nilai
Adanya peran keluarga yang bergeser.
** Faktor eksternal

Tumbuhnya masyarakat industri yang menekankan masing-masing kita untuk berproduksi dan bekerja
Berkembangnya generasi barat. Generasi yang menganut kebebasan, sekulerisme, modernisasi, hedonis.
Adanya gerakan feminis
Tips solusi mengatasi ancaman disintegrasi tersebut ialah:

Membangun kesolihan kolektif keluarga
Membangun komunikasi keluarga yang baik dan efektif. Komunikasi yang baik ialah tidak terlalu lengket, tetap berikan ruang atau jarak di antara kedua belah pihak
Membangun pemahaman yang sama, ta’awun produktif.
Memperkokoh ketahanan keluarga
Mesra yang tak berkesudahan. Dengan cara selalu tersenyum, menikmati apa yang ada dan tidak perlu marah, wajah yang ceria, berdandan sesuai keinginan suami, perbanyak variasi dalam hidup, serta bercanda.

Resume materi
Komunitas to be Wonderful wife
Oleh dr.Anna Purnamasari

Ada tiga hal yang membuat motivasi menikah semakin kuat. Apa sajakah itu?

Pertama, menikah adalah BAGIAN dari meraih CITA-CITA. Jadi, menikah itu BUKAN cita-cita.
Kedua, POTENSI. Baik potensi fisik, ruhiyah, maupun pemikiran.
Ketiga, adanya PELUANG.
Jika terdapat ketiga hal tersebut, tentunya motivasi menikah kita semakin tinggi.

Lalu, mengapa sih kita harus menikah?
Kita ingat, manusia diciptakan Allah di dunia memiliki 2 tugas utama :
1. Untuk beribadah sebagaimana terdapat dalam QS. 51:56 . Salah satu ibadah ialah dengan menenikah.
2. Manusia diciptakan menjadi khalifah di muka bumi. Kita diberi tugas untuk memanfaatkan dan merawat bumi ini.

Coba kita lihat fenomena saat ini. Banyak anak-anak yang terlahir autis, hiperaktif. Autis adalah anak yang sibuk dengan dunianya sendiri. Ia melakukan repetitive behaviour yang tidak bertujuan. Anak autis penyebabnya ialah terdapat banyak logam berat di dalam tubuh. Fenomena semacam ini merupakan akibat dari manusia kurang menjaga diri dan lingkungannya.

Dengan menikah, manusia bisa mengoptimalisasi tugasnya beribadah sekaligus menjadi khilafah.
Menikah tidak hanya sekedar karena usia sudah cukup, ada kecenderungan hati dengan seseorang, dan memang karena harus menikah.
Menikah tidak hanya sekedar I LOVE YOU dan YOU LOVE ME. Tidak sesederhana itu! Ada misi yang kita emban di sana…

Lalu, apa sebenarnya fungsi menikah? dr. Anna memaparkan 6 fungsi menikah, yaitu biologis, psikologis, reproduktif, sosial, mengokohkan dakwah dan peradaban, serta mendidik manusia agar lebih berkualitas. Mari kita bahas satu persatu.

1. FUNGSI BIOLOGIS
“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanam-mu itu, bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah khabar gembira (kepada) orang-orang yang beriman.” –(QS.2:223)

Manusia memiliki nafsu yang harus disalurkan dan perasaan ingin dekat dengan lawan jenis. Otak manusia dapat menunjukkan jenis kelamin seseorang apakah pria atau wanita. Jadi, jenis kelamin manusia sebenarnya tidak hanya dapat dilihat dari organ-organ reproduksinya saja.

2. FUNGSI PSIKOLOGIS/BATIN
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” –(QS.30:21)

Menikah supaya timbul ketenangan (sakinah), ketentraman, dan kedamaian. Hadirnya pasangan hidup akan menimbulkan ketiga rasa tersebut.

3. FUNGSI KELESTARIAN GENERASI (REPRODUKTIF)
Menikah mampu melestarikan generasi untuk menghindari kepunahan. Coba kita lihat, di beberapa negara maju sudah banyak yang tidak mau menikah.
Contohnya Jepang, negeri sakura ini penduduknya terancam punah 1000 thn mendatang. Penyebab dari menurunnya jumlah penduduk karena banyak warga Jepang yg malas memiliki anak bahkan memilih melajang. Mereka beranggapan semakin banyak anak anak, semakin banyak beban yang ditanggung.
Selain itu, adanya seks bebas, pasangan gay dan lesbian berkembang dimana-mana semakin memperkecil reproduksi manusia.

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu, yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan, laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah, yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” –(QS.4:1)

4. FUNGSI SOSIAL KEMASYARAKATAN
Dengan menikah, agar tidak terjadi kekacauan sosial, dekadensi moral, dan ketidakseimbangan sosial.
Pernikahan dianggap penjara bagi penduduk negara-negara modern. Disana susunan keluarga menjadi tidak jelas. Seorang anak tumbuh berkembang dalam sebuah keluarga yang hanya terdiri ibu-anak, ayah-anak , nenek-anak , pasangan lesbi/ gay-anak angkat, dll.

5. MENGOKOHKAN DAKWAH DAN PERADABAN
Keluarga mencetak jati diri seseorang. Kepribadian seorang anak dipengaruhi pola asuh orangtua. Nilai-nilai Islam akan lebih tegak ketika kita berkeluarga.

6. MENDIDIK MANUSIA AGAR BERKUALITAS LEBIH BAIK
Dengan menikah, kita bisa mencegah lahirnya generasi yang lemah, generasi yang permisif dan hidup hedonis.

Setelah membicarakan mengapa kita harus menikah dan apa fungsi dari pernikahan, mari kita bahas bagaimana prosesnya.

1. PEMILIHAN
Yang pertama ialah pemilihan. Yaitu, ikhtiar atau berusaha menemukan pasangan. Bisa mencari sendiri, dibantu mencari, atau minta tolong dicarikan oleh teman, keluarga, guru ngaji, dan lain
sebagainya.

2. MUSYAWARAH ( ISTISYARAH )
Setelah menemukan seseorang yang telah dibidik, yang harus dilakukan ialah Istisyarah atau musyawarah. Maksudnya, meminta pendapat dan pertimbangan dari orang lain, apakah calon tersebut
direkomendasikan oleh mereka atau tidak. Mencari pasangan hidup itu lebih kompleks dari memilih baju. Kita kadang memilih baju sampai berjam-jam, berputar-putar mencari mana yang cocok, ternyata setelah lama… eh malah kembali ke toko yang pertama. Memilih baju saja butuh proses,
apalagi memilih pasangan hidup. Musyawarah dilakukan agar keputusan tidak subjektif.

3. ISTIKHARAH
Setelah bertanya kepada orang lain telah dilakukan, tahap selanjutnya yang harus dilakukan ialah Istikharah. Yaitu bertanya kepada Allah, meminta kemantapan hati, dan berserah diri kepada Allah.

4. TA’ARUF
Tahap berikutnya ialah taaruf atau perkenalan. Apa perbedaan istisyarah dengan taaruf? Saat istisyarah kita memperbanyak cari info dari orang lain tentang sang calon. Sedangkan taaruf dilakukan dengan bertemu langsungsung, bertatap muka dengan sang calon. Taaruf dilakukan ketika niatan untuk bersedia dengan si dia sudah ada (minimal 50 %).

Sebelum proses ta’aruf sudah mencari info-info tentang dia. Saat taaruf kita bisa saling bertanya langsung. Tanyakan hal-hal yang ingin diketahui, boleh detail namun jangan berlebihan.
Mulai dari data seperti nama lengkap, alamat, tempat tanggal lahir, suku, hingga hal-hal yang lebih detail seperti visi misi
pernikahan, kebaikan, keburukan, apa yang disukai, apa yang tidak disukai, dan lain sebagainya.

Taaruf dilakukan dengan tidak berdua-duaan. Ajak orang lain yang mengetahui proses tersebut. Kenapa? Agar beliau bisa memberikan pertimbangan secara objektif.

Tidak disyariatkan berapa lama tahap taaruf ini berlangsung. Namun sebaiknya jangan terlalu lama dikarenakan banyak timbul godaan.

5. PEMINANGAN / KHITBAH
Setelah dirasa cukup dan ada kecocokan antara kedua belah pihak, lalu dilakukan Khitbah/ Peminangan. Dalam tahap ini sang pihak perempuan tidak diperbolehkan menerima pinangan dari pihak lain.

6. AKAD NIKAH
Kemudian tahap selanjutnya ialah akad nikah, sebuah janji untuk mengarungi kehidupan bersama.

7. WALIMATUL URSY
Terakhir ialah walimah. Menyebarkan berita gembira pernikahan.

Bagaimana jika pada saat tahap taaruf, tidak ditemukan kecocokan, tidak apa-apa. Jika menolak sampaikan dengan kata-kata baik. Bisa minta disampaikan oleh sang perantara, atau menyampaikan sendiri. Lalu, silakan berikhtiar lagi mencari yang lain.

Ada sebuah pertanyaan, bagaimana jika anak hasil pernikahan kurang berkualitas, padahal kita sudah menjalani proses yang baik?
Allah tidak melihat hasil, namun melihat proses. Jika dalam proses sudah dilakukan dengan baik, namun hasilnya malah seperti itu, anggap saja itu teguran atau peringatan dari Allah agar kita semakin dekat denganNya. Perbanyak istighfar. Mungkin itu ujian dari Allah. Kita juga harus mengevaluasi pola asuh terhadap anak. Jangan malah saling menyalahkan pasangan. Kesalahan satu pihak adalah kesalahan bersama.

Pertanyaan lain, bagaimana jika ada calon datang dan memesan (booking) kita?
Tidak apa-apa, jangan langsung ditolak. Perjelas alasan dia memesan kita dan musyawarahkan dengan orang lain bisa dengan keluarga atau guru ngaji.

Semoga bermanfaat ^_^

Dapat broadcast tulisan ini dr Whatsapp, sepertinya layak untuk disebarkan. Selamat membaca :))

Seorang teman kuliah (perempuan) pernah berkata kepada saya, “Menjadi kalian (lelaki berpendidikan tinggi) itu sebetulnya sangat mudah. Istri kalian bisa mencari uang sendiri, yang mereka butuhkan hanyalah kasih sayang”.

Mendengar ucapannya saya terdiam. Apa yang ia ucapkan memang betul. Sebagai para lelaki yang mengenyam pendidikan tinggi, maka biasanya para perempuan yang berhasil kami persunting sebagai istri adalah mereka yang berpendidikan tinggi juga. Dalam kasus saya dan teman-teman di ITB, istri-istri kami tidak jauh dari alumni ITB juga, dokter Unpad, atau para perempuan yang mengenyam pendidikan di unversitas-universitas yang bagus.

Melihat latar belakang pendidikannya, wajar jika kemudian mereka mendapatkan kesempatan untuk memperoleh karir yang bagus. Dalam hal karir, para perempuan itu tidak perlu merasa kalah dari para lelaki. Asalkan memiliki kinerja bagus, posisi setinggi apapun di tempat kerjanya sangat mungkin diperoleh.

Namun, ada satu hal yang terkadang bisa “menghambat” karir istri, yaitu pernikahan. Sebagai orang timur, sebagian besar dari kita menganut paham bahwa, “langkah perempuan itu tidak panjang”. Artinya, pada umumnya istri akan mengikuti suami. Misalnya ternyata suami harus pindah pekerjaan ke luar daerah, maka biasanya istri akan “mengalah” dan mengikuti suami. Dalam hal ini tentu istri berkorban sangat besar karena bisa jadi dengan kepindahan itu dia harus meninggalkan pekerjaannya. Kalaupun bisa mendapatkan pekerjaan baru, tidak ada jaminan bahwa di tempat barunya itu dia bisa mendapatkan karir yang sama bagusnya dengan karir di tempat asalnya.

Saya sendiri paham betul dengan hal ini. Ketika menikah di tahun 2012, saya yang masih baru memulai karir sebagai dosen di ITB harus berangkat ke Belanda untuk menempuh pendidikan doktor. Saya dan istri ingin agar kami tidak berpisah terlalu lama. Terdengar mudah bukan? Istri saya tinggal menyusul ke Belanda maka kami pun akan dapat berkumpul kembali. Permasalahan selesai.

Sayangnya kenyataan tidak semudah itu. Waktu itu istri saya masih terikat kontrak di tempat kerjanya sehingga dia baru bisa menyusul hampir setahun kemudian. Tetapi bukan cuma itu permasalahannya. Istri saya sering berpikir. Nanti kalau di Belanda apa yang akan ia kerjakan? Apa aktivitas yang bisa dia punya? Bagaimana jika tidak bisa bertemu teman-teman dan keluarganya dalam jangka waktu lama?

Apakah salah jika seorang istri mempunyai pikiran sedemikian rupa? Tentu tidak. Saya pun sering punya pikiran yang sama. Lelaki akan menjadi makhluk yang sangat egois jika ia berpikir bahwa istrinya harus menurut sepenuhnya mengikuti dirinya kemanapun karir membawanya. Istri saya waktu itu masih baru beranjak 23 tahun. Ia lulus cum laude dari Teknik Industri ITB dengan persentil 94 di angkatannya. Sebuah prestasi yang tidak semua orang bisa dapatkan. Waktu itu dia sedang bekerja di salah satu BUMN terbesar di Indonesia dan hampir selalu unggul dari sisi penilaian kinerja.

Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, dalam beberapa tahun mungkin dia akan bisa mendapatkan posisi yang sangat bagus di tempat kerjanya. Kalau saja istri saya tidak perlu ikut ke Belanda, dia bisa dengan mudah membeli beberapa barang yang teman-temannya bisa beli. Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, secara materi mungkin kami akan lebih baik dan kami tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana nanti mencicil rumah, mobil, pendidikan anak, dsb.

Dan atas segala kesempatan bagus yang istri saya lewatkan untuk dengan ikhlas mengikuti suaminya, apakah saya harus jengkel kalau ia mempunyai sebersit rasa khawatir tentang masa depannya di Belanda? Tentu tidak. Istri saya punya rasa khawatir karena dia berpendidikan tinggi, karena dia pintar. Dengan itu dia sebetulnya punya kesempatan yang besar untuk bisa sukses. Tetapi dia dengan rela meninggalkan itu demi suaminya. Apakah ini bukan wujud cinta yang tulus dari seorang istri ke suaminya? Lagipula kalau dipikir, memang kriteria pendidikan tinggi dan pintar adalah kriteria yang saya tentukan dengan sadar ketika hendak memilih istri. Maka rasa khawatir itu adalah konsekuensi yang harus siap saya terima.

Wahai para suami. Istri-istrimu yang berpendidikan tinggi memiliki rasa khawatir kalau harus meninggalkan karirnya bukan karena ia takut kehilangan uang banyak, bukan juga karena takut kehilangan status sosial. Penyebabnya adalah ia tidak terbiasa harus diam di rumah pada saat sebelumnya disibukkan dengan berbagai kegiatan pada saat kuliah. Inilah yang menjadi tanggung jawab kita untuk ikut memikirkan solusinya.

Saya sering merasa berdosa kalau saya harus “merampas” masa muda dan kesempatan istri saya hanya karena ia harus mengikuti saya. Saya selalu berusaha memberikan pengertian bahwa yang penting dapat berkumpul bersama dulu. Yang penting bahwa istri itu harus pintar dan berpendidikan tinggi supaya anak-anak kami mendapatkan pendidikan dasar yang bagus. Maka saya sangat bersyukur ketika istri berhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan magister di Rijksuniversiteit Groningen mulai bulan September 2014. Paling tidak dia juga mendapatkan nilai tambah dengan ikut saya ke Belanda.

Pada akhirnya, memang fitrah seorang istri untuk selalu mengikuti suami. Tetapi posisi sebagai pemimpin keluarga tidak lantas membuat kita egois dan tidak ber-empati kepada istri. Maka para suami,

Jangan hanya memikirkan karirmu. Istrimu mungkin meninggalkan karirnya demi majunya karirmu

Jangan tersinggung kalau didebat istrimu. Itu tanda kalau ia pintar, dan ia mendapatkan kepintaran itu dari pendidikan yang kalian para suami tidak mengeluarkan uang sepeserpun

Jangan pelit kepada istrimu. Dia rela mengorbakan kesempatannya untuk mengikuti dirimu. Padahal tidak ada jaminan bahwa dirimu akan lebih sukses darinya

Jangan pelit untuk mendoakan istrimu. Setiap sehabis sholat istrimu selalu mendoakan dirimu

Jangan bersikap kasar kepada istrimu. Suatu saat kamu akan ingat, bahwa selain ibumu, dia lah orang yang paling lembut sikapnya terhadapmu

Jangan tinggalkan istrimu karena suatu saat kamu sukses. Pada saat sekarang kamu belum sukses, hanya istrimu lah yang tulus mencintaimu

Berterima kasihlah kepada istrimu. Ia sudah cukup banyak berkorban untukmu dan tidak pernah meminta ucapan terima kasih

Groningen, 21 Juni 2014 jam 21:01 CEST

untuk Istriku tercinta

If I have to die a thousand times, I will always choose you on every re-birth

Alhamdulillah… ^^

"

Jika sendiri jangan merasa sepi,ada Allah yg menemani

Jika sedih jangan di pendam dalam hati,ada Allah tempat berbagi

Jika marah jaga fikiran & hati,ada Allah tempat menenangkan diri

Jika susah jangan merasa pilu,ada Allah tempat mengadu

Jika gagal jangan berputus asa,ada Allah tempat meminta

Jika bahagia janganlah lupa,ada Allah tempat bersyukur

"

Sebenernya dr mulai seminggu yg lalu dokter sudah bilang kalau calon mujahid/mujahidahku sudah tidak bersamaku. Kabar baru kusampaikan kpd beberapa teman di kampus saja. Satu pesan yg paling panjang, datang dr Vanny…

"Yg utama, ncim dan bang ali hrs terima, si dedek msh betah sm Alloh. Nangis2nya akn hilang kl ncim udh benar2 terima. Selanjutnya tinggal kita keep sabar dan istiqomah, sambil siapin diri dan kesehatan pas dikuret.
Masih terbentang jalan utk ngejemput si dedek. sembap bisa diilangin dikit pake kompres anget bsk pagi. Sebelum tidur cuci muka/wudhu biar ngga terlalu sembap paginya.
Ncim dan bang ali calon ortu hebat :)”

Pas banget ini sehari sebelum ujian praktikum, bukannya belajar malah nangis semalem suntuk. Besok paginya nutupin bengkaknya pake celak yg super tebel. Dan masih sempet belajar pagi2 sambil sarapan dan di kampus bareng yg lain sebelum masuk ruang ujian..

Setelah itu masih banyak berdoa berharap kalau calon mujahid/mujahidah ku masih ada harapan. Terus ngajak omong dedeknya… dibangunin siapa tau ada keajaiban. Ternyata rencana Allah tak begitu, 5 hari setelahnya flek mulai keluar. Nangis sedih lagi di kamar mandi… mau ke dokter pun gak rela karena masih dalam berduka fase denial. Akhirnya baru 3 hari setelahnya memberanikan diri. Harus dikuret katanya…

Sengaja gak nyebar kesana sini, tapi kabar angin sampai juga ke semua orang. Ucapan keprihatinan dan kata2 penyemangat banyak terucap untukku kemarin. Satu yg paling menyentuh hati, datang dr teman SMP ku. Banan namanya…

"untuk calon umi luar biasa..
Syifa wanita yg kuat. ga semua org dikasih ujian yg sama besarnya kyk syifa krn ga semua org kuat kayak syifa. Semoga dgn ujian ini Allah mengampuni semua dosa2 syifa dan suami. Dan semoga segera diamanahkan kembali buah hati yg dinanti2. Sehat2 ya syifa”

Hanya bisa terharu, berkaca-kaca, dan mengaminkan. Semua ada hikmahnya. Syifa kuat kok… apalagi syifa punya umi bapak, adik2, teman2, yg selalu optimis dan terus mendukung. Suami juga optimis banget, kuat banget hampir tak diperlihatkan kesedihannya, karena sudah tugasnya terlihat kuat di depanku. Menyelipkan becanda-becandaan agar aku tetap tersenyum. Apa aku pantas berharap lebih? Semua sudah rencana-Nya… insyaAllah ini yg terbaik. InsyaAllah akan segera diberi ganti olehNya yg lebih baik. Aamiin…

This week, my baby’s heart is forming and, by the end of this week, begins to beat at a steady rhythm. Its skeleton begins to form, as do the structures that will become its eyes and ears.

Also during this week, the placenta forms. The placenta is responsible for the transfer of nutrients and oxygen from the your bloodstream to the fetus. It also allows the fetus to get rid of its own waste by transferring it back to my circulation. It also continues to secrete the hormones progesterone and estrogen, which help keep my pregnancy steady.